Selamat siang pak, berikut terlampirkan tugas manajemen konten saya, dengan hasil cek plagiarismenya di small seo.

Nama: Novinda Bahniar Puteri
Kelas: MB 38-05
NIM: 1401154387

Mohon diterima, terima kasih.

Solusi Cerdas,

Masyarakat Tidak Dicerdaskan

Banyak diantara pembaca sekalian yang tentu sudah pernah merasakan bagaimana pembuatan Paspor di Kantor Imigrasi. Belum pernah atau tidak tahu apa itu paspor? Paspor adalah dokumen yang akan menakdi tanda pengenal WNI jika bepergian ke luar negeri. Pengurusan Paspor ini sebenarnya sangat mudah, namun masalah yang paling dihindari pelamar paspor adalah antrian pembuatan paspornya. Banyak kasus di masyarakat, dimana tumbuh banyaknya calo paspor yang seharusnya bukan menjadi jalan pintas atau ladang nafkah.

Mengapa hal sekecil antrian saja dapat membuat masyarakat enggan membuat paspor sendiri? Berikut adalah gambaran bagaimana antrian paspor di Kantor Imigrasi pada hari kerja:

Wah, sangat tidak manusiawi, ya. Pelamar paspor malah lebih terlihat seperti masyarakat yang sedang antri sembako murah atau bahkan sedang melakukan demonstrasi masal.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, maka Kantor Imigrasi Bandung membuat suatu inovasi pada sistem antrian pemohon paspor, yakni dengan membuat website dan aplikasi berbasis android yang akan memudahkan pemohon untuk tidak antri berlebihan lagi.

Inovasi ini sudah diberlakukan sejak 15 Agustus 2017 untul seluruh Kanim di Bandung, yakni Unit Pelayanan Kantor Imigrasi di jalan Soekarno Hatta, dan Kantor Pusat Imigrasi Bandung, di Jalan Untung Surapati.

Meski sudah cukup lama berjalan, namun masih banyak masyarakat yang hendak membuat paspor masih belum paham ataupun tahu atas sistem baru ini. Ditemui di kantor unit layanan Imigrasi di Gedung Bina Citra lantai 3, masih banyak calon pemohon yang kebingungan dan hendak membuat paspor on site, namun terpaksa pulang karena belum memiliki nomor antrian. Sedangkan, nomor antrian sudah penuh rata-rata H-7 dari tanggal yang hendak di pilih.

Dengan adanya fenomena ini, dapat dilihat bahwa sosialisasi pihak kanim masih sangat kurang. Tidak adanya sosialisasi konvensional seperti di koran, radio, maupun brosur membuat pemogon yang belum tahu menahu mengenai android dan website menjadi kesulitan, terutama generasi yang berumur atau tinggal di pedesaan. Efek yang ditimbulkan tentu sangat besar, yakni membuat penundaan adanya paspor dan banyaknya pemohon yang gagal membuat paspor. Jadi, apakah ini kesalahan Kanim atau Masyarakat yang kudet(baca: kurang update)? Yuk tulis pendapatmu di kolom komentar!